Judul: Lawan Tirani Kampus Kita!
Penulis: Achmad Fahmi Putro Cahyono
Penerbit: Inteligensia Media (Intrans Publishing Group), Malang
Tahun Terbit: 2024
Tebal: xii + 112 halaman 5
Buku ini bukan sekadar karya akademis yang tersusun rapi dengan teori-teori berat, melainkan sebuah kumpulan catatan kritis dan provokatif yang lahir dari rahim keresahan seorang aktivis mahasiswa. Penulisnya, Achmad Fahmi Putro Cahyono, merupakan mahasiswa Sosiologi Agama di UIN Syekh Wasil Kediri yang aktif dalam gerakan organisasi kemahasiswaan. Melalui buku ini, ia mencoba memotret realitas perguruan tinggi yang menurutnya telah melenceng jauh dari esensi pendidikan yang memanusiakan manusia.
Buku Lawan Tirani Kampus Kita! bukan sekadar catatan harian seorang aktivis, melainkan sebuah otopsi tajam terhadap “kematian” idealisme di jantung perguruan tinggi. Melalui narasi yang provokatif, buku ini membedah bagaimana kampus telah bertransformasi dari sebuah ruang suci pencarian kebenaran menjadi sebuah mesin industri yang digerakkan oleh logika pasar yang kejam. Kritik yang disampaikan penulis menyentuh akar permasalahan yang paling mendasar dalam dunia kampus dan perilaku seluruh elemen civitas akademika-nya.
Kritik terhadap dunia kampus dalam buku ini berpusat pada fenomena komersialisasi dan industrialisasi pendidikan. Penulis menggambarkan kampus saat ini tak ubahnya sebuah pabrik, di mana mahasiswa dipandang sebagai konsumen atau komoditas, dan ijazah adalah produk akhirnya. Dalam ekosistem ini, “tirani disiplin pasar” bekerja dengan sangat efektif; segala aktivitas akademik dinilai berdasarkan efisiensi dan profitabilitas administratif, bukan lagi pada kedalaman refleksi intelektual. Akibatnya, kampus kehilangan otonominya dan terseret dalam arus pragmatisme yang dangkal, di mana akreditasi dan pemeringkatan dianggap jauh lebih penting daripada kontribusi nyata terhadap penyelesaian problem kemanusiaan.
Di level civitas akademika, penulis membedah keterasingan (alienasi) yang dialami oleh dosen maupun mahasiswa secara mendalam. Dosen digambarkan telah kehilangan marwahnya sebagai cendekiawan organik. Mereka teralienasi dari tugas utamanya untuk berpikir kritis karena terbelenggu oleh rantai administratif yang menyesakkan. Fokus mereka terpecah—atau bahkan tersedot habis—oleh tuntutan sertifikasi, pelaporan LKD, dan pengejaran skor publikasi demi akreditasi institusi, yang sering kali mengabaikan relevansi sosial dari ilmu yang mereka ajarkan.
Mahasiswa dikritik karena terjebak dalam “mentalitas kemapanan” yang prematur. Banyak mahasiswa yang kini hanya menjadi “robot akademis” yang patuh, yang datang ke kampus sekadar untuk memenuhi absensi dan mengejar nilai tinggi tanpa memiliki kepekaan terhadap ketidakadilan di sekitarnya. Mereka dididik untuk lulus secepat mungkin agar segera bisa diserap oleh pasar kerja, sehingga daya kritis mereka tumpul dan semangat perlawanan mereka padam di bawah tekanan ancaman administratif.
Birokrasi Kampus dipotret sebagai tangan besi yang menjaga status quo. Penulis menyoroti adanya kecenderungan birokrasi untuk menggunakan kekuasaan disiplin guna membungkam suara-suara sumbang yang dianggap mengganggu stabilitas. Hal ini menciptakan budaya “takut mengkritik” karena adanya risiko ancaman akademik, yang pada akhirnya melanggengkan struktur hierarki yang kaku dan anti-kritik.
Kritik paling pedas dalam buku ini adalah mengenai matinya spirit Tri Dharma Perguruan Tinggi. Penulis menilai bahwa pengabdian masyarakat sering kali hanya menjadi ajang formalitas dokumentasi untuk memenuhi laporan tahunan, tanpa ada keberpihakan nyata terhadap masyarakat kecil (seperti pedagang kaki lima atau pekerja di sekitar kampus) yang justru sering terpinggirkan oleh kebijakan kampus itu sendiri.
Namun, sebagai catatan kritis, narasi buku ini terkadang terjebak dalam subjektivitas yang emosional. Kekurangan utamanya terletak pada kelemahan struktur teoretisnya, di mana penulis lebih banyak bercerita berdasarkan pengalaman personal daripada melakukan analisis sistemik yang menggunakan pisau bedah sosiologis yang lebih kuat. Hal ini menyebabkan beberapa solusinya terasa kurang konkret dan lebih bersifat imbauan moral. Selain itu, bahasa yang repetitif dalam menekankan isu-isu tertentu dapat membuat pembaca merasa jenuh karena argumen yang disampaikan berputar pada poin yang sama tanpa pengembangan yang progresif.
Secara keseluruhan, buku ini adalah cermin yang retak bagi dunia pendidikan tinggi kita. Meski memiliki keterbatasan dalam kedalaman akademik, kejujuran dan keberanian penulis dalam menyuarakan borok-borok di tubuh civitas akademika menjadikannya bacaan wajib bagi siapa pun yang masih peduli pada masa depan intelektualitas di Indonesia.
Fuad Faizi
Dosen Sosiologi Agama UIN Syekh Wasil




